Pulang
Deru mobil berpacu dalam hening. Di malam kelam sedikit gerimis. Desahan nafas penumpang lain yang mulai terbuai mimpi. Tarikan nafas berat seakan menyampaikan bahwa sekarang adalah waktu istrahat yang baik.
Isyarat itu pastinya tidak dapat terpenuhi saat ini. Kenyataannya kami masih ada dalam sebuah perjalanan pulang. Melewati jarak ratusan mil jauhnya. Dengan sedikit rasa khawatir dan was-was dengan pengemudi tunggal kami. Rasa takut yang menuntun kami untuk selalu mengingat Allah. Berserah diri akan nasib yang menghampiri. Tentunya dengan rasa harap dan doa yang terbaik. Keselamatan dan keberkahan.
Iya. Perjalanan pulang yang melelahkan. Untuk sebuah harap yang tidak terlalu jelas. Tapi inilah rasa. Pengikat rindu dan kekerabatan yang abadi.
Aku tetap melangkah ke depan. Tak peduli pada jalan yang sudah pernah terlewati. Dia ada atau tidak. Aku hanya berharap kebaikan di setiap langkahku. Mencoba merajut asa. Tidak terbatas pada materi, kejayaan dan kedudukan. Aku hanya meyakini bahwa jalinan silaturahmi yang baik mampu memanjangkan umur dan keberkahan dalam hidup. Aku menginginkannya.
Komentar
Posting Komentar