Menikmati Senja
Kunikmati senjaku di sini saja. Jauh dari kemewahan. Penuh ketenangan dan memanjakan. Berada di antara dua situs yang penuh dengan legenda.
Soreku hari ini, kuhabiskan di warung Bukit Indah. Orang juga biasa menyebutnya warung "Pak Jaksa". Warung Pak Jaksa karena pemiliknya memang seorang Jaksa yang terkenal dan dikenal hampir oleh seluruh orang Duri. Lokasinya berada di antara dua ikon Massenrempulu. Antara Gunung Bambapuang dan Gunung Nona.
Di depan warung "Pak Jaksa" menjulang tinggi Gunung Bambapuang. Saat itu, puncaknya berselimut kabut tebal, hingga yang nampak hampir setengah dari gunungnya. Disinilah legenda tentang asal muasal penduduk Sulawesi Selatan. Termasuk kepercayaan yang hingga kini masih dianut oleh sebagian besar orang Toraja " aluk todolo". Gunung Bambapuang yang legendanya dahulu merupakan tangga nirwana adalah tempat turunnya "Tomanurung" yang kemudian beranakpinak menjadi ragam suku di Sulawesi Selatan. Tangga nirwana ini kemudian runtuh karena adanya pelanggaran "aluk" atau adat. Runtuhnya mengarah ke negeri "Matarik Allo" Toraja. Di sanalah "aluk" itu akan abadi.
Pemandangan belakang warung terhampar Gunung Nona. Diselimuti kabut tipis. Memanjakan mata, menyejukkan hati. Gunung Nona juga memiliki legenda. Sebenarnya, tepat dihadapan Gunung Nona terdapat Gunung Perjaka. Penduduk setempat menyebutnya " Buntu Lasa" atau " Buttu Lasa". Bentuknya hampir menyerupai alat kelamin laki-laki. Diantarai sungai yang tidak pernah kering dan berair keruh. Konon kedua gunung ini tercipta karena adanya kutukan dari nirwana. Pelanggaran perjanjian yang terjadi, bahwa perkawinan saudara hanya bisa dilakukan sampai generasi ke tujuh. Tanpa mereka sadari, keturunan generasi ke delapan berkasih- kasihan hingga muncul lagu " Suruganna Bambapuang".
Tangkendaunmi to lamba
Tangkencolli cendana
Naola dundu
Naletei ceppaga...
Penggalan lagu di atas konon menggambarkan antara laki- laki dan perempuan tersebut sudah tidak bisa terpisahkan lagi. Keakraban mereka digambarkan bahwa Pohon Lamba sudah tidak lagi berdaun, pohon cendana sudah tidak lagi berpucuk, karena keseringan dijalani dan dilewati oleh ayam jantan ( kiasan, maksudnya si pemuda).
Keakraban tersebut akhirnya keluarga membuat keputusan untuk menikahkan saja agar tidak terjadi zina. Pesta meriahpun digelar dengan meriah. Mendatte digambarkan sebagai wilayah yang subur dan berlimpah hasil bumi. Pesta 7 hari 7 malam dilaksanakan tanpa henti. Di malam ke tujuh, barulah mereka menyadari bahwa yang dinikahkan adalah generasi ke delapan dan masih bersaudara. Kutukan pun diturunkan. Dipisahkanlah antara laki- laki dan perempuan di antarai sungai, sehingga mereka tidak pernah lagi bisa bertemu.
Demikian senjaku hari ini yang kuhabiskan bersama separuh jiwaku❤❤
Gambar 1. Menikmati senja di warung pak Jaksa Mendatte
Gambar 2. Gunung Nona
Gambar 3. Suasana senja yang tenang
Gambar 4. Gunung Bambapuang tertutup kabut sore.




Komentar
Posting Komentar